HSE FOKUS K3L PADA BAHAYA ATAU ASPEK LINGKUNGAN BUKAN RESIKO ATAU DAMPAK

Ki Sigit Marsono February 22, 2019
Dalam beberapa kesempatan melakukan review , live audit K3L (bagian dari training Internal Audit K3L), maupun audit K3L, kami  banyak menemukan MISS-ORIENTASI dalam penyusunan sistem Manajemen K3L.


• Banyak perusahaan yang justru fokus untuk melakukan pengendalian terhadap resiko / dampak. Namun belum menemukan cara bagaimana mengurangi bahaya dan/atau aspek K3L. Padahal Menurut kami fokus pengendalian seharusnya dilakukan terhadap bahaya dan atau aspek, bukan pada resiko / dampak. Miss-orientasi ini sayangnya sudah berkembang menjadi paradigma berpikir untuk kita fokus dalam mengendalikan resiko / dampak. Akibatnya semua tindakan pengendalian lebih difokuskan pada resiko / dampak bukan pada area bahaya / aspek. Sebagai contoh :
→ Ketika terjadi ceceran, bagaimana untuk mengatasi ceceran tersebut, termasuk diantaranya memiliki secondary containment (tatakan) dan tanggul untuk memblokir ceceran. Bukan pada usaha bagaimana supaya tidak terjadi ceceran.
→ Ketika terjadi kecelakaan dipikirkan penggunaan APD supaya ketika terjadi kecelakaan, resiko yang ditimbulkan bisa menjadi lebih minimal. Bukan pada pencegahan terhadap kecelakaan atau pencemaran.
→ HIRADC dan atau IAD fokus pada pengendalian resiko atau dampak. Bukan pada pengendalian Bahaya / Aspek K3L.


→ Training yang dilakukan sering difokuskan pada area resiko, bagaimana melakukan pemadaman api, melakukan investigasi kecelakaan, melakukan emergency respond, melakukan first aid, dan lain sebagainya. Minim sekali training-training yang berfokus pada pengendalian terhadap bahaya / aspek K3L.


Sebenarnya tidak salah juga kalau kita memiliki program untuk mengendalikan resiko / dampak, dan kita juga tidak bisa meninggalkan atau mengabaikan resiko / dampak, namun usaha kita seharusnya lebih diorientasikan pada pengendalian bahaya / aspek K3L. Usaha kita harus lebih difokuskan pada pencegahan. Ketika pola pikir kita sudah berorientasi pada bahaya / aspek lingkungan, maka tindakan kita pun akan terarah kepada pengendalian bahaya / aspek lingkungan.


Contoh dari studi kasus hasil life audit yang kami lakukan :
• Bahaya : Cipratan dan paparan uap Asam. Sebelumnya mereka focus pada penggunaan pakaian tertutup untuk menghindari cipratan dan uap mengenai manusia (fokus pada resiko). Ketika kami mengarahkan mereka untuk fokus dalam mengendalikan bahaya, maka secara otomatis pola pikir mereka menjadi lebih terfokus pada cipratan dan paparan uap asam tersebut. Bagaimana agar tidak ada atau mengurangi cipratan dan paparan uap asam. Dan hasilnya muncul program pengendalian sebagai berikut :


→ Merubah cara penuangan dengan melarang penuangan manual tetapi harus menggunakan pompa (ditarik dengan pompa),
→ Memasang kipas yang diarahkan keluar, menjauhkan uap kimia dari pekerja.
→ Ada pula ide untuk meninggikan proses penyedotan menggunakan pompa yang berada diatas kepala karena ada pemikiran uap akan naik ke atas sehingga manusianya bebas dari uap (terlepas dari perlunya adanya pembuktian bahwa uap akan naik keatas, namun ide ini menarik karena fokus pada bahaya paparan).
Kasus ini terlihat sederhana, namun memiliki dampak besar dalam merubah pola pikir kita untuk menyusun progam K3L yang lebih bersifat prevention. Oleh karena itu kita harus selalu tekankan pada saat menyusun HIRADC / IAD ataupun program K3L, pengendalian di fokuskan terhadap Bahaya / aspek K3L bukan pada resiko / dampak yang ditimbulkan.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »